Probolinggo — Ribuan umat Hindu Tengger memadati mata air suci Widodaren di kawasan Gunung Bromo, Rabu (26/3/2025). Mereka datang dari berbagai penjuru Pasuruan dan Probolinggo untuk melaksanakan upacara Melasti, ritual sakral menjelang Hari Raya Nyepi.
Di bawah langit Bromo yang cerah, rombongan umat Hindu berpakaian serba putih berjalan beriringan, membawa berbagai sarana persembahyangan. Pratima, tombak, cakra, dan sesaji mereka jinjing dengan penuh kehormatan.
Sejak pagi, alunan mantra dan doa suci bergema di kawasan Widodaren, menciptakan suasana yang khusyuk dan syahdu.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, menjelaskan bahwa Melasti bukan sekadar ritual biasa, melainkan proses penyucian lahir dan batin.
“Melasti bertujuan untuk membersihkan diri dari segala kekotoran duniawi, baik secara spiritual maupun fisik. Kami juga menyucikan benda-benda sakral agar siap digunakan dalam perayaan Nyepi,” ujar Bambang.
Prosesi ini diawali dengan pengambilan air suci dari Gua Widodaren, yang diyakini sebagai anugerah dari Sang Hyang Widhi. Air suci ini nantinya akan dibawa ke pura-pura di desa masing-masing untuk keperluan upacara Nyepi.
Di antara ribuan peserta, Mistaman, seorang warga Tengger, mengungkapkan ketenangan yang ia rasakan setiap kali mengikuti Melasti.
“Saat air suci membasuh tubuh, rasanya seperti kembali terlahir. Hati menjadi ringan, beban terasa hilang. Ini adalah momen sakral yang sangat kami nantikan setiap tahunnya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah Melasti, umat Hindu Tengger bersiap menjalani Tawur Agung Kesanga, yang akan digelar pada Jumat (28/3/2025). Ritual ini ditandai dengan arak-arakan ogoh-ogoh, patung raksasa yang melambangkan kekuatan negatif. Ogoh-ogoh kemudian akan dimusnahkan dalam api pralina sebagai simbol pembersihan alam semesta dari roh-roh jahat.
Kemudian, puncak perayaan Nyepi tiba pada Sabtu (29/3/2025). Selama Catur Brata Penyepian, umat Hindu akan menjalani amati karya (tidak bekerja), amati geni (tidak menyalakan api), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).
Di tengah modernisasi, tradisi Nyepi tetap lestari di tanah Tengger. Keheningan yang menyelimuti kawasan ini bukan sekadar pantangan, tetapi sebuah perenungan mendalam.
“Melalui Nyepi, kami belajar untuk kembali ke dalam diri sendiri, merefleksikan kehidupan, dan menjaga keseimbangan alam,” ujar Widian Dharma Singgih, panitia Melasti.
Ritual Melasti di Widodaren bukan hanya milik umat Hindu Tengger, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Nusantara. Sebuah pesan bahwa kesucian bukan sekadar kata, melainkan tindakan nyata untuk menjaga harmoni dengan sesama dan alam semesta.