Probolinggo – Warga Dusun Klagin, Desa Brabe, kini menjalani hari-hari penuh risiko setelah jembatan penghubung ke Desa Condong putus diterjang banjir bandang.
Tanpa pilihan lain, mereka harus menyeberangi Sungai Pekalen dengan perahu getek yang hanya beralaskan drum dan tali tambang sebagai pengaman.
Jembatan yang runtuh ini sebelumnya menjadi jalur utama warga untuk beraktivitas, termasuk berbelanja ke Pasar Condong.
Kini, mereka harus bertaruh nyawa setiap kali menyeberang, berharap perahu darurat yang disediakan Pemerintah Desa Brabe mampu membawa mereka selamat ke seberang.
Perahu berukuran 6 x 4 meter ini mampu menampung hingga 20 orang dalam sekali jalan. Namun, meskipun menjadi solusi sementara, keberadaannya justru mengundang kekhawatiran.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, R. Oemar Sjarief, dengan tegas menyarankan agar penggunaannya dihentikan.
“Perahu getek ini berbahaya. Jika debit air tiba-tiba naik, risikonya sangat besar. Kami tidak menyarankan warga untuk terus menggunakannya,” ujar Oemar.
Pemerintah setempat kini berpacu dengan waktu untuk mencari solusi yang lebih aman. Salah satu rencana jangka panjang yang tengah digodok adalah pembangunan jembatan gantung permanen.
Namun, kapan realisasinya? Warga hanya bisa menunggu sambil terus berjibaku dengan arus Sungai Pekalen yang tak bisa ditebak.
Kepala Desa Brabe, Sunardi, berharap pemerintah segera turun tangan dengan solusi konkret. Setelah jembatan runtuh, warga sempat terisolasi hingga dua hari karena tidak bisa ke pasar.
“Kami hanya ingin jembatan baru secepatnya. Perahu getek ini bukan solusi jangka panjang. Kami tidak ingin ada korban jiwa sebelum jembatan pengganti dibangun,” tegas Sunardi.
Sementara itu, nasib anak-anak sekolah menjadi perhatian utama. Banyak di antara mereka harus melewati sungai dengan perahu darurat ini, mempertaruhkan keselamatan hanya demi mendapatkan pendidikan.