Pacitan – Pemerintah Kabupaten Pacitan tengah mengajukan bantuan vaksin PMK sebanyak 80 ribu vial kepada Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Pertanian guna menangani wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang telah menyerang ratusan ekor sapi di daerah tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Sugeng Santoso, mengungkapkan bahwa stok vaksin di daerahnya sudah habis sejak tahun lalu, dan tahun ini mereka masih menunggu bantuan vaksin.
“Sejak tahun lalu, stok vaksin PMK kami telah habis. Kami sudah mengajukan bantuan vaksin untuk tahun ini, namun hingga kini belum ada bantuan yang masuk dari pemerintah provinsi atau pusat,” jelas Sugeng pada Minggu (12/1/2025).
Menurut Sugeng, kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi saat ini adalah 20 ribu dosis vaksin untuk sapi-sapi yang masih sehat. “Idealnya, vaksin diberikan setiap enam bulan sekali, dan vaksinasi terakhir dilakukan pada Mei tahun lalu,” tambahnya.
Hingga saat ini, meskipun permohonan telah disampaikan kepada pemerintah provinsi dan pusat, tidak ada vaksin yang diterima oleh Kabupaten Pacitan. Bahkan, anggaran untuk pengadaan vaksin di tingkat nasional pada tahun 2025 juga belum dialokasikan.
Sebagai langkah sementara, peternak yang membutuhkan vaksin bisa mempertimbangkan opsi non-subsidi. Sementara untuk sapi yang terinfeksi PMK, pengobatan dilakukan dengan pemberian vitamin serta penyemprotan desinfektan pada area sekitar.
Menurut data terbaru, jumlah ternak sapi yang terjangkit PMK di Pacitan terus meningkat. Dari total populasi 59 ribu ekor sapi, sebanyak 791 ekor sapi tercatat terinfeksi, dengan rincian 672 sapi masih sakit, 44 mati, 38 sembuh, dan 37 ekor dipotong paksa demi mencegah penyebaran lebih lanjut.
Dengan kondisi ini, Sugeng berharap bantuan vaksin segera diterima agar penanganan wabah PMK dapat dilakukan secara efektif dan mencegah kerugian yang lebih besar bagi peternak lokal.
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Antara News